Senin, 03 Oktober 2011

Hati-hati Salah #memandang ! (kuliah twitter saya)



1. Assalamu'alaikumWrWb... Bismillah, kali ini saya akan coba kultwit tentang #memandang Jadi silakan pandangi layar PC/HP anda baik-baik :)

2. Sahabat... Setiap detik, setiap kedipan, setiap sorotan mata kita dalam #memandang adalah karunia Allah. Alhamdulillah yah... ^_^

3. Mata ini sungguh luar biasa. Bahkan kamera tercanggih pun belum dapat menandingi kemampuan mata dalam #memandang

4. Maka wajar bila Allah katakan: "Maka nikmat manakah yang akan engkau dustakan?" Padahal kita baru bahas tentang kemampuan mata #memandang

5. Adalah bentuk rasa syukur, yaitu menggunakan sesuatu sesuai kehendak Yang Memberi. Maka #memandang pun Allah jelaskan penggunaannya

6. "Katakanlah kepada lelaki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya & kemaluannya..." (QS.24:30) #memandang

7. "Dan katakanlah kepada para wanita yang beriman agar mereka menjaga pandangannya & memelihara kemaluannya" (QS.24:31) #memandang

8. "...Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat" (QS.24:30) #memandang

9. Ketika #memandang menjadi haram sebab ia menjadi sarana "rusaknya" kemaluan, berarti bahwa #memandang boleh demi maslahat yg lebih besar

10. Allah jadikan mata sebagai cermin hati. Apabila seorang hamba menundukkan pandangan, berarti ia menundukkan syahwatnya. #memandang

11. Apabila ia bebaskan pandangannya untuk #memandang apapun semaunya, berarti dia telah bebaskan syahwatnya

12. Alkisah, Rasul beserta rombongan ketika menuju Mina, lewatlah rombongan wanita. Fadhl(di sebelah Rasul) pun #memandang rombongan itu.

13. Kemudian rasul palingkan wajahnya kepala Fadhl ke arah yang lain (HR.Bukhari & Muslim) #memandang

14. Sikap Rasul jelas menunjukkan larangan atas apa yang dilakukan Fadhl. Seandainya #memandang itu boleh, tentu Rasul akan mendiamkan.

15. Dalam hadis lain: "Allah telah menetapkan bagian dari zina. Mata akan berzina, dan zinanya adalah #memandang ..." (HR.Bukhari-Muslim)

16. Lagi: "Ali, jangan iringi pandangan 1 dengan pandangan berikutny. Pandangan pertama untukmu, keduanya dosa bagimu" (HR.Dawud) #memandang

17. Umumnya, pandangan ke-2 tidak dapat mengurangi letupan hati. Di sinilah berlaku "dari mata turun ke hati". Maka hati2lah dlm #memandang

18. Ketika berniat untuk #memandang ke2kalinya, Iblis berdiri di kuduknya lalu menghiasinya dengan yg indah agar dampak buruknya lebih besar

19. Berlebihan #memandang bisa jadi faktor tidak turunnya pertolongan Allah. Karena Allah hanya menolong hambaNya yang taat pada perintahNya

20. Usman bin Affan pernah mengatakan kepada seorang sahabat bahwa di matany ada bekas zina hanya karena #memandang wanita sedikit agak lama

21. Kesimpulannya, #memandang itu boleh, tapi bukan untuk berlama2 apalagi untuk dinikmati berkali2. Na'udzubillah...

22. "...Seseorang yang menjaga pandangannya, maka Allah akan menganugerahkan di hatinya manisnya iman" (HR.al-akim) #memandang

23. Orang yang menjaga pandangan akan Allah mudahkan dalam menuntut ilmu. Mau bukti? Lihat cara orang2 cerdas dalam #memandang

24. Orang yang menjaga pandangan juga akan Allah berikan kekuatan, keistiqomahan, dan keberanian. Mau? So, hati2 #memandang

25. Skian kultwit #memandang :: Ingat, kmaksiatan bkn hny terjadi krn niat pelakunya, tp jg krn ad kesempatan. So, perkecil pluang maksiat!


Sumber:
http://twitter.com/alif_chan

Referensi:
Buku "Bercinta dengan Allah" karya Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyyah

continue reading

Rabu, 03 Agustus 2011

Foxconn Gantikan Manusia dengan Satu Juta Robot

Pekerjaan-pekerjaan sederhana akan diganti dari tangan manusia kepada robot. Hal ini dilakukan Foxconn, perusahaan yang membuat sejumlah perangkat untuk Apple iPhone dan iPad.

Bahkan Foxconn berencana mengganti tenaga kerja manusia dengan satu juta robot dalam tiga tahun mendatang.

Kantor berita Xinhuanet melaporkan, robot-robot tersebut akan menangani pekerjaan-pekerjaan sederhana yang selama ini dikerjakan manusia seperti mengelas dan merangkai komponen. Foxconn saat ini punya 10.000 robot yang akan meningkat menjadi 300.00 tahun depan hingga akhirnya menjadi satu juta dalam tiga tahun mendatang.

"Penggunaan robot ditujukan untuk menekan pengeluaran untuk pos tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi," kata Foxconn CEO, Terry Guo.

Foxconn merupakan perusahaan besar di China. Perusahaan yang memiliki sejuta pekerja ini belum lama menjadi sorotan akibat serangkaian kasus bunuh diri yang terjadi di pabrik. Kasus itu memaksa Apple, Hewlett-Packard, Dell, Sony, dan perusahaan lain menginvestigasi praktik bisnis yang dijalankan Foxconn. Belum lama berselang, pabrik Foxconn di Chengdu meledak, menewaskan dua orang dan melukai 16 orang lainnya.

continue reading

Senin, 18 Juli 2011

Belajar Organisasi dari Nabi - Teladan

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS.al-Ahzab:21)


Assalamu'alaikumWrWb...

Segala puji hanya untuk Allah swt, Rabb semesta alam atas segala nikmat yang tak terhitung banyaknya. Shalawat serta salam kita curahkan kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad saw.

Bismillah, inilah tulisan pertama saya di blog saya sendiri. Semoga dapat menjadi bahan renungan untuk kita semua yang membacanya. Kali ini saya akan mencoba sedikit membahas tentang teladan. Sesuatu yang sering kita dengar, namun jarang kita jumpai.

Sering sekali kita mendengar ayat di atas dalam ceramah-ceramah atau khotbah Jum'at. Namun tak banyak dari kita tahu bagaimana kisah sesungguhnya pada saat apa ayat tersebut turun. Ini penting karena bagaimanapun al-Qur'an yang kita baca, seringkali hanya kita artikan secara tekstual tanpa mencoba mencari tahu sebenarnya apa yang Allah swt coba jelaskan kepada kita tentang ayat tersebut.

Ayat ini turun pada masa terjadinya perang Ahzab(perang sekutu), atau mungkin ada lagi yang menamainya dengan perang Khandak(perang parit). Dinamai al-Ahzab yang berarti golongan-golongan yang bersekutu, yaitu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik terhadap orang-orang mukmin di Medinah. Mereka telah mengepung rapat orang-orang mukmin sehingga sebahagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.

Dalam ayat ke-10 dan 11 surat al-Ahzab Allah katakan:
"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat."

Bayangkan bagaimana ketakutan & kengerian yang dialami kaum Muslimin & penduduk Madinah pada saat itu, hingga Allah swt katakan tidak tetap lagi penglihatan(penglihatan menjadi kabur seakan ingin pingsan) serta hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan(seperti ketika naik rollercoaster yang sedang turun dari ketinggian). Sampai seperti itu kondisi psikologis penduduk Madinah karena begitu gawatnya kondisi saat itu.

Ditambah lagi dengan hasutan-hasutan dari orang-orang munafik yang mengatakan:
"Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya. Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." (ayat 12-13)
Sehingga beberapa pasukan meminta izin kepada Rasul saw untuk kembali ke Madinah dengan mengatakan:
"Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)" (masih di ayat 13)
Padahal rumah-rumah mereka tidak terbuka sama sekali. Mereka mengatakan hal itu hanya karena hendak melarikan diri dari peperangan.

Dalam kondisi ketakutan yang luar biasa tersebut, Rasul & para Sahabat mengadakan rapat(syuro) untuk menentukan strategi perang al-Ahzab ini. Salah seorang Sahabat ada yang memberikan usulan supaya membuat benteng pertahanan yang mengelilingi kota Madinah. Namun usul tersebut segera disambut oleh Sahabat yang lain dengan mengatakan: Tidak bisa begitu! Kalau harus membangun benteng, akan membutuhkan waktu yang lama juga akan sangat menguras tenaga.


Maka kemudian muncullah sebuah ide yang sangat terkenal dari seorang Sahabat bernama Salman al-Farisi ra. Salman mengatakan: Ya Rasul, bagaimana kalau kita membuat parit di sekeliling Madinah? Kemudian Rasulullah saw bertanya: Jelaskan kepada kami. Seperti apa parit yang engkau maksud? Lalu Salman menjelaskan: Parit yang harus kita bangun, lebarnya selebar dimana kuda tak dapat melompatinya, dan dalamnya adalah lebih dalam dari tinggi 2 orang. Ide ini pun akhirnya disepakati oleh Rasul saw & para Sabahat.

Proses pembuatan parit ini membuat pasukan Muslimin harus mengirit persediaan makanannya seirit mungkin. Sampai-sampai diceritakan dalam sejarah bahwa pada saat itu mereka hanya makan 1 buah kurma dalam sehari. Maka pekerjaan membuat parit merupakan pekerjaan yangluar biasa sangat melelahkan. Sampai-sampai pada saat itu kaum Muslimin harus menjama' 4 sholat dalam 1 waktu. Karena jika 1 orang saja lengah, maka musuh akan dapat menyerang dengan mudah.

Suatu ketika disela menggali parit, seorang sahabat mengalami kesulitan karena menemukan satu bongkahan batu yang besar lagi keras. Kemudian Sahabat tersebut meminta bantuan kepada Rasul saw, dan Rasul saw pun mendatanginya. Di sela proses memecahkan batu itulah para sahabat tercengang, karena ternyata pada saat itu terlihat ada 2 batu yang dipakai Rasul untuk mengganjal perutnya sebagai penahan lapar. Padahal pada saat itu, para Sahabat yang lain hanya mengganjal perut mereka dengan 1 buah batu.

Lalu diangkatlah alat pemecah batu tersebut, kemudian Rasul saw pukulkan alat tersebut ke batu, sehingga pecah batu tersebut seraya memercikkan api yang tinggi ke langit sambil berkata: Allahu Akbar!!! Aku melihat bahwasanya aku diberikan kunci-kunci Negri Syam. Demi Allah, aku melihat istana-istananya yang berwarna merah di sana. Lalu dipukullah batu itu untuk yang kedua kalinya, pecahlah kembali batu itu sambil Rasul saw berkata: Allahu Akbar!!! Aku diberi kunci-kunci Negeri Persia. Demi Allah, aku melihat istana Madain yang berwarna putih. Ketiga kalinya, akhirnya batu itu pun pecah berantakan sembari Rasul saw mengatakan: Allahu Akbar!!! Aku diberi kunci-kunci negeri Yaman. Demi Allah, aku bisa melihat pintu-pintu gerbang istana Shan’a.


Pernyataan ini mengundang sindiran dari orang-orang munafik yang kemudian mengatakan: Nabi kita ini sedang bercanda. Kita saja di sini kesusahan menghadapi pasukan musuh. Namun orang-orang yang beriman punya pandangan yang jauh berbeda. Dalam ayat ke-14 disebutkan:
Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita." Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.


Strategi parit ini adalah strategi yang baru dikenal oleh orang Arab pada saat itu, maka kemudian musuh pun bingung bagaimana masuk ke dalam kota Madinah. Dalam psikologi peperangan, ketika seseorang berada di bawah parit, maka ketika itu dia sudah bisa dipastikan akan kalah. Kemudian setelah itu datanglah pertolongan Allah berupa angin yang memporak-porandakan tenda-tenda musuh di sekitar Madinah. Seihingga mundurlah pasukan musuh dan menanglah kaum Muslimin.

Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (ayat 25)

Subhanallah...
Jika kita cermati benar kisah ini, ada beberapa hal yang seharusnya kita teladani:
1. Ketenangan Rasulullah saw dalam menghadapi tekanan
2. Keteladanan Rasul saw dalam berjuang (bersama-sama membuat parit)
3. Ketegarannya menghadapi banyaknya musuh (3000 vs 10000)
4. Keprihatinannya dalam mengirit jatah makan
5. Kearifan Rasul saw dalam menerima pendapat Salman al-Farisi ra
6. Visi yang mendunia, serta optimisme bahwa suatu saat Islam kan menyebar luas
7. Kesabaran, kekuatan, kejernihan pikiran, dll.

Sekian dari saya. Tunggu Edisi Belajar Organisasi dari Nabi berikutnya... ^_^
Wallahua'lam bisshowab...

Wassalamu'alaikumWrWb...

continue reading

Jumat, 15 Juli 2011

Ketika Aktivis Mengeluh..!!!

Menjadi aktivis dakwah itu enak. Bisa selalu sibuk, semua kegiatannya merupakan hal-hal yang diridhai Allah, banyak teman bahkan banyak saudara yang siap saling membantu dalam kebaikan dan takwa.

Ahmad, sebut saja namanya begitu, tidak setuju dengan pendapat saya. Menurutnya, menjadi aktivis itu melelahkan. Mengurus kuliah saja sudah menguras waktu dan tenaga, bagaimana pula jika ditambah mengurusi dakwah yang kegiatannya 24 jam sehari, tujuh hari sepekan? 

Saya jawab, cinta membuat semua kesibukan itu terasa mengasyikkan. Tanpa cinta, upaya yang menghabiskan waktu dan tenaga memang terasa melelahkan. Dengan cinta, segala keletihan berubah menjadi keasyikan. Semakin keras berupaya, semakin asyik rasanya. Seperti naik roller coaster atau arung jeram, semakin menantang semakin diminati. 

Badrun, juga bukan nama sebenarnya, tidak setuju dengan pendapat saya. Menurutnya, cinta itu mudah datang dan pergi. Kadang kita aktif dengan penuh semangat dan cinta, kemudian esoknya menjadi sangat malas dan bosan. 

Saya jawab, itu namanya bukan cinta tetapi mood. Orang yang mud-mudan (moody) memang cepat berubah-ubah. Seperti bandul pendulum. Kadang mengayun ke kanan menjadi sangat rajin berdakwah. Sebentar kemudian minatnya menurun, sampai ke sudut kiri, terjerumus dalam dosa-dosa. Kemudian menyesal, kembali aktif, kemudian bosan, kembali malas dan seterusnya. Saya katakan, obat bagi orang yang moody adalah disiplin dalam arti `memaksakan diri'. Jangan ikuti kemalasan. Lawan kemalasan itu, kalau perlu bunuh dan gali kuburan buatnya dalam-dalam. Lalu paksakan diri untuk kembali aktif. 

Kata Tarman juga bukan nama sebenarnya, "Ia tidak bisa menikmati dakwah kalau caranya harus dengan memaksa diri begitu." 

Saya jawab, orang-orang yang sedang ber-mood negatif memang harus mengabaikan aspek kenikmatan atau keasyikan pada awal aktifitasnya. Cukup menyadari bahwa dakwah ini adalahwajib, lalu paksakan diri. Sebentar kemudian, insya Allah, rasa malas itu akan hilang; bisa jadi karena menyaksikan sahabat yang berjuang keras, atau memandang wajah ceria anak-anak yatim yang menerima santunan, atau ketika pengurus masjid mengucapkan terima kasih sambil mendoakan kebaikan dengan tulus. Paksakan diri untuk langkah pertama, insya Allah langkah-langkah berikutnya menjadi nikmat dengan ridhaNya. Percaya dan coba sajalah. In ahsantum, ahsantum lianfusikum, jika kamu berbuat baik, maka sebenarnya kamu sedang berbuat baik untuk dirimu sendiri… (QS Al Isra': 7). 

Tsaurah juga bukan nama sebenarnya, setuju dengan pendapat saya, tetapi ia nyeletuk,"Ada masanya kita kecewa dengan dakwah. Meski sebenarnya kita sangat mencintai dakwah, beberapa hal terasa sangat mengecewakan. Misalnya ketika dakwah tampak dikemudikan menuju arah yang keliru." 

Saya katakan, munculnya kekecewaan setelah cinta yang menggelora merupakan saat-saat ujian komitmen, ujian kesetiaan. Banyak orang diberi karunia sehingga bisa jatuh cinta kepada dakwah, tetapi tidak sanggup mempertahankan cintanya ketika kekecewaan atau kecemburuan datang. Aktif berdakwah ketika sedang jatuh cinta adalah wajar, tetap aktif meski sedang dilanda kekecewaan dan kemarahan barulah pertanda kesetiaan yang tinggi. Inilah komitmen, dan inilah yang insya Allah bisa menjaga ke-istiqamah-an. Allah sangat memuji kesetiaan sehingga berfirman: 

"Sesungguhnya orang yang berjanji setia kepadamu adalah orang-orang yang berjanji setia kepada Allah, Tangan Allah berada di atas tangan mereka." (QS Al Fath :10) 

Saya tambahkan lagi, kekecewaan yang menimpa para pecinta dakwah bisa juga disebabkan oleh tuntutan perfeksionis dari sang aktivis. Maunya serba sempurna, ya sempurna ajarannya, ya sempurna jalannya, sempurna juga semua penyeru/aktivisnya. Ketika ia mendapati beberapa aktivis ternyata tidak sempurna, menjadi kecewalah hatinya lalu ia mengundurkan diri dari harum semerbaknya jalan dakwah. Perfeksionisme sendiri bisa diibaratkan pedang bermata dua. Satu sisinya merupakan pelecut motivasi membakar semangat untuk berdakwah habis-habisan, sisi lainnya merupakan kritikus sadis yang dengan pedas mengatakan bahwa tanpa kesempurnaan, seluruh rangkaian dakwah hanyalah kekonyolan yang sia-sia saja. 

Juhdi juga bukan nama sebenarnya, bertanya, "Bagaimana cara agar kita tidak menjadi aktivis romantis yang hanya aktif ketika sedang mood? Bagaimana supaya kita tetap berkomitmen sepanjang hayat dan tidak mudah berhenti ketika kecewa?" 

Saya katakan, dakwah adalah kesatuan kata dan perbuatan. Kita tidak bisa memilih salah satu dari kedua hal tersebut. Jika seseorang hanya aktif dalam dakwah perkataan, sebentar kemudian ia akan merasa bahwa dirinya tidak lebih dari penjual obat di pinggir jalan. Sebaliknya jika seseorang hanya beramal tanpa mau mengajak dengan lisannya, lama-lama ia merasa jenuh seolah dirinya telah berbuat melebihi para ustadz yang `hanya' berteriak-teriak saja. Ia merasa telah cukup melakukan amal-amalnya, tidak merasa dituntut untuk meningkatkannya lebih baik lagi. Tidak jarang kemudian mereka bermalas-malasan dengan alasan: kan saya bukan ustadz. Para ustadz tuh yang harus selalu tampil baik agar tidak mengecewakan umat…. sedangkan saya kan orang biasa. Hanya dengan menyatukan aktifitas dalam kata dan perbuatan insya Allah komitmen selalu terjaga. 

Hamid juga bukan nama sebenarnya, menyangkal. Menurutnya, sekarang banyak aktivis yang meski giat berkata dan berbuat ternyata tidak tahan ketika dunia menghampirinya. Biasanya setelah menduduki sebuah kursi jabatan atau berhasil menjadi pengusaha sukses, sang aktivis menjelma menjadi penghamba dunia yang hobinya pamer mobil bagus, gadget mahal, rumah gedongan, dan berburu atribut-atribut duniawi lainnya. 

Saya balik bertanya, mengapa Hamid menjadikan pencapaian duniawi sebagai tolok ukur menurunnya komitmen dakwah seseorang? Seharusnya kita melihat kinerja, bukan sekedar penampilan duniawi. Tidak ada salahnya seorang da'i yang dulu pengguna angkutan umum sekarang kemana-mana naik unta merah metalik, apalagi jika hal itu membuatnya lebih produktif. Tidak mengapa seorang ustadz membawa-bawa gadget keren, jika gadget tersebut membuat jadwal dan presentasi dakwahnya semakin sistematis dan berkah. Merupakan kebaikan jika aktivis memiliki rumah besar sehingga acara recruitment tidak perlu menyewa vila di luar kota yang jauh, melelahkan dan sulit dijangkau. 

Kholid juga bukan nama sebenarnya, ikut urun rembug. Ia berkata bahwa dakwah pada masa sekarang terasa kurang menyentuh hati. Rasanya kering dan gersang. Kalau dulu liqa' di hamparan karpet hijau sederhana dengan air putih dan roti kering atau penganan sekedarnya terasa bagai siraman air surga, sekarang pertemuan di rumah mewah dengan sajian enak-enak dan presentasi canggih hanya terasa formal dan hambar mirip meeting kantor atau arisan sebuah perkumpulan. 

Saya jawab, seharusnya kita memiliki komitmen yang dinamis. Dakwah memiliki masa-masa yang berbeda, ada masanya penuh ujian yang berat, ada pula masanya dakwah ini dibanjiri ghanimah melimpah dari segala arah. Yang penting tetap dalam komitmen kepada Allah, tetaplah menjadikan dunia itu sebagai sarana di tangan, jangan sampai ia merasuk ke dalam hati. Bukankah para Rasul juga berbeda-beda? Ada Nuh `alaihis salaam yang sedikit pengikut, ada Sulaiman `alaihis salaam yang menjadi raja segala makhluk, ada Isa Al Masih `alaihis salaam yang seumur hidup dikejar-kejar dan ada pula Muhammad shalallahu `alaihi wa sallam yang sukses gemilang tetapi tetap mengencangkan sabuknya karena lapar. Komitmen yang statis hanya cocok untuk satu corak ujian saja, komitmen yang dinamis bisa mengatasi ujian dalam semua coraknya. 

Daridin juga bukan nama sebenarnya, yang semula diam menyimak rupanya tertarik untuk nimbrung. "Dimana kita bisa bertemu dengan aktivis sesuai gambaran tadi? Penuh cinta, tidak mud-mudan, selalu berkomitmen dan bisa dinamis mengikuti naik-turunnya dakwah di panggung kehidupan?" 

Saya tertegun sebentar, kemudian menjawab pelan. Di luar sana ada beberapa tokoh yang bisa kita sebut, tetapi kita tidak perlu menyebut mereka satu persatu. Seharusnya kita menghadapkan telunjuk kepada diri kita sendiri. Meski kita adalah orang baru dalam dakwah ini, meski kita baru belajar membaca dan menulis sambil belajar menyampaikan dakwah semampunya, tetapi insya Allah inilah calon-calon aktivis dengan berbagai kriteria tersebut, Bismillaah…

Sumber:
http://www.islamedia.web.id/2011/07/ketika-aktivis-mengeluh.html

continue reading

Jumat, 24 Juni 2011

Suluk Tanzhimi si ‘Pedang Allah’

Jutaan orang tidak dapat melebihi keutamaanmu….
Mereka gagah perkasa tapi tunduk di ujung pedangmu…
Engkau pemberani melebihi Singa Betina…..
Yang sedang mengamuk melindungi anaknya……
Engkau lebih dahsyat dari air bah…..
Yang terjun dari celah bukit curam ke lembah……
Rahmat Allah bagi Abu Sulaiman,
Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada yang ada di dunia.
Ia hidup terpuji, dan berbahagia setelah mati…..

Untaian syair indah yang dilantunkan Ibunda Khalid saat mengantarkan sang putra ke pemakaman terakhir.


dakwatuna.com – Di penghujung pertempuran menjelang akhir, datang seorang utusan kepada Khalid Bin Walid. Utusan Khalifah yang baru, Umar Bin Khattab ra yang menggantikan Abu Bakar ra yang telah wafat. Surat itu berisi pemberhentian Khalid dari jabatannya sebagai panglima perang dengan Abu Ubaidah ra sebagai pengganti.

Dengan tenang Khalid bin Walid membaca surat itu dan meminta kepada kurir untuk tidak memberitahukan isi surat kepada siapa pun sampai peperangan berakhir. Pertimbangan Khalid saat itu adalah khawatir instruksi dari Khalifah ini dapat memecah konsentrasi pasukan muslimin. Pertempuran terus berlanjut sampai akhirnya pasukan muslimin dapat mencapai kemenangan.

Usai pertempuran yang melelahkan, saat peluh masih membasah, luka masih belum terobati,  darah masih menetes di ujung pedang. Sang Pedang Allah bergegas menjumpai Abu Ubaidah untuk menyampaikan pesan pengangkatannya sebagai panglima pengganti dirinya. Pemecatan Khalid oleh Khalifah Umar bukan sama sekali dilandasi ketidaksukaan (like or dislike). Tapi lebih didasarkan atas firasyatul mu’min untuk menyelamatkan aqidah umat dan keimanan Khalid sendiri.

Kemenangan demi kemenangan yang dicapai Khalid dalam pertempuran menjadikan namanya harum semerbak, popularitasnya memuncak. Tapi prestasi spektakulernya ini membawa pada kecenderungan pengkultusan akan dirinya. Khalifah Umar membaca ini dan khawatir umat terperosok, begitu juga Khalid akan mendapatkan fitnah yang besar.

Selanjutnya Khalid kembali berjuang di bawah kendali mantan anak buahnya sebagai jundi al-muthi’ah tanpa mempedulikan statusnya yang “turun pangkat”. Ketika dikonfirmasi tentang pemecatan dirinya, beliau menjawab: “Aku berperang bukan untuk Umar tapi karena Allah swt”.

Subhanallah! Sepenggal kisah yang sarat makna dan penuh hikmah. Tarbiyah qiyadiyah yang sungguh luar biasa. Penghentian tugas struktural (wazhifah tanzhimiyah) oleh Khalifah terhadap Panglima Perangnya adalah soal ru’yah qiyadiyah, sebuah keputusan yang harus disikapi dengan ketaatan. Sama sekali tidak menghilangkan tugas fungsionalnya (wazhifah mashiriyah) sebagai mujahid yang harus selalu berada di barisan tentara Allah. Inilah inspirasi sekaligus spirit bagi kita di tengah tugas-tugas kita menuntaskan agenda-agenda dakwah ke depan.

1. Tidak Panik, Tetap Berada dalam Kesadaran

Bagi orang biasa ‘Pemecatan’ serasa gempa bumi, begitu cepat membuat banyak orang panik. Tapi itu tidak terjadi pada diri Khalid Bin Walid, padahal kejadiannya ketika pertempuran tengah berkecamuk, yang bisa jadi memicu orang mata gelap, kalap bahkan hilang akal sehat. Kekuatan jiwa kepemimpinannya berhasil mengelola kepanikan yang menimpanya. Baik itu kepanikan anak buah, ataupun dirinya sendiri. Sehingga, seluruh kepanikan yang terjadi dapat diatasi dengan baik, ada strategi dan ada solusi yang cukup realistis. Dengan kata lain, Khalid adalah pemimpin yang menjadi “penenang” dan “pengarah” dalam menghadapi kepanikan, bukan justru menjadi lebih panik daripada anak buahnya sendiri. Dia memiliki arah untuk membawa anak buah ke jalan yang seharusnya, bahkan cenderung rela berkorban untuk keselamatan barisan tentaranya. Sehingga dalam kepanikan, akan terdengar ucapan yang menyejukkan. “Aku berperang bukan untuk Umar tapi karena Allah swt”.

2. Tidak Kecewa, Tetap Berada dalam Tsiqah

Bagaimana sikap Khalid membaca surat pemecatan dirinya? Ia menerima pemberhentian tersebut dengan sikap kesatria. Tidak sedikit pun kekecewaan dan emosi terpancar dari wajahnya. Kekecewaan akan menyulut kemarahan, sementara kemarahan hanya akan menenggelamkan seseorang dalam “kuburan” ego yang akan menjerumuskan diri dalam persoalan. Sikap mudah emosi atau temperamental tidak ada pada Khalid Bin Walid. Khalid dapat menguasai naluri kekuasaan yang ada padanya (hubbus siyadah) dan tidak menjadikan dukungan anak buahnya kepadanya sebagai alat untuk mempertahankan dan melanggengkan jabatannya. Bahkan dia tetap berperang di bawah komando baru dan menaati segala perintah Abu Ubaidah yang kini menjadi atasannya.

Bagi orang biasa tentu sudah sakit hati bila berada pada posisi yang sama seperti dialami oleh Khalid Bin Walid. Kekecewaan akan membuat seseorang mudah diprovokasi dan ujung-ujungnya ia akan bertindak sembrono sehingga akan membodohi diri sendiri. Oleh karena itu, kemarahan yang disulut karena kekecewaan biasanya hanya akan “terjebak” dalam kubangan yang mencelakakan.

Sesungguhnya apapun yang kita miliki, harta, anak atau jabatan, prinsipnya adalah ‘laysa maalikan ashilaan’ kita bukanlah pemilik aslinya. Jabatan itu sifatnya mandatory, secara hirarkis amanah jabatan diberikan kepada seseorang. Tidak bisa dituntut, direkayasa apalagi dengan melakukan ‘gerakan-gerakan’ illegal mendukung atau membendungnya.

3. Tidak Membalelo, Tetap Berada dalam Tansik

Tentu akan lain situasinya andaikan Khalid protes atas pemberhentian dirinya sebagai Panglima dan kemudian memobilisasi pendukungnya demi jabatan itu, seperti yang sering dan banyak terjadi saat ini, pasti akan terjadi kekacauan dan umat akan terpecah belah, sehingga terjadi perkelahian dan pertempuran didalam barisan dan tentunya musuh akan dengan mudah menghantam mereka, dan penaklukan Romawi pun mungkin hanya akan ada dalam angan-angan. Sungguh luar biasa, kebesaran jiwa Khalid.

Tidak mudah bagi seseorang menerima kenyataan yang menimpa dirinya. Pemecatan terkadang diartikan sebagai ketidakpercayaan terhadap dirinya. Siapa pun kita, pasti ingin dicintai, mencintai, dipercayai, dan mempercayai orang lain. Tetapi, ketika sakit hati tiba, sulit rasanya untuk kembali memaafkan dan mempercayai orang yang melakukannya. Bahkan mungkin merasa sulit untuk membuka hati dan perasaan kepada orang lain yang tidak tahu apa-apa. Ini adalah dilema yang harus dihadapi. Akhirnya, terserah kita, memilih untuk berjalan sendiri atau melanjutkan hubungan setelah apa yang terjadi. Satu hal yang pasti, roda dakwah akan terus berputar dengan atau tanpa sakit hati.

Tetap disiplin pada ketentuan dan kendali struktur.  Ketentuan tersebut menjadi aksioma yang mengikat kader-kader yang berhimpun di dalamnya. Dengan begitu seluruh sikap kader  senantiasa atas arahan yang menjadi kebijakan struktur (Tansik al a’mal). Tidak ‘menyempal’ sendirian. Karena sikap semacam itu akan berakibat  bagi yang lainnya dan tanzhim secara langsung. Karenanya mereka yang melakukan perbuatan semisal itu dikategorikan sebagai sikap indisipliner. Hal itu ditunjukkan walaupun sudah bukan menjadi mas’ul wilayah tertentu. Seseorang tidak berhak memobilisasi mantan anak buahnya tanpa berkoordinasi dengan shahibul wilayah yang baru. Inilah kesalihan berorganisasi yang ada pada diri Khalid ra.

4. Tidak ‘Diam’ Tetap Berada dalam Amal.

Seorang panglima perang terbaik di zamannya, sedang berada di puncak karir. Harus mundur di tengah masa jabatan atas permintaan atasannya. Oleh suatu alasan yang tidak dapat didefinisikan secara teks hukum di masa kini.  Lalu apakah ia kemudian marah dan kemudian mangkir dari perang setelah tidak menjabat lagi sebagai panglima? Atau memperkarakan atasannya ke meja hijau? Ternyata tidak, iapun kembali ikut berperang sebagai prajurit biasa tanpa ada rasa malu atau sakit hati. Betapa bahagianya Khalid bin Walid. Lihatlah, betapa mudahnya ia menyerahkan jabatan kepada anak buahnya. Orientasi perjuangannya adalah Allah, bukan jabatan, ketenaran dan kepuasan nafsunya.

Sungguh pribadi yang memiliki loyalitas kuat (Quwwatul Intima’i). Hal ini sebagai sikap yang amat prinsipil. Lantaran dari situlah prestice keimanan terbentuk menjadi bangunan yang kuat dalam sanubari seorang mukmin. Bila demikian halnya kader dakwah mampu mengemban amanah yang diserahkan pada dirinya. Kemudian melaksanakannya dengan segera, berpikir, bersikap dengan langkah tidak keliru. Agar dalam waktu yang cepat dapat segera mengambil posisi untuk musyarakah da’awiyah (partisipasi dakwah).

Seorang ulama dakwah bergumam lantang pada dirinya. ‘Wahai fulan bin fulan, duhai teman hari ini semua tempat telah jelas untuk siapa? Tiada tempat yang kosong. Semua sibuk mencarinya namun tak seorang pun yang berani berada pada posisi duduknya yang berbahaya. Aku inginkan diriku yang menempatinya. Siapkan kalian mengikuti ku untuk mengambil posisi suci?. “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Q.S. Yusuf: 108).

Marilah kita terus mengevaluasi diri. Boleh jadi kita sibuk beramal, namun sebaik-baik amal adalah dalam konteks jihad fi sabilillah. Dan sebaik-baik jihad fi sabilillah adalah yang selalu dalam bingkai nizhamiyatut thaat. Wallahu a’lam

Sumber:
http://www.dakwatuna.com/2011/06/12790/suluk-tanzhimi-si-pedang-allah%E2%80%99

continue reading